Managemen Risiko PBJ

IDENTIFIKASI RISIKO DALAM PENGADAAN BARANG/JASA

MANAJEMEN RISIKO DALAM PENGADAAN BARANG/JASA (Bagian I)

Konsep Dasar dan Pengertian Risiko

Pengertian Risiko menurut ISO 31000 (2009/ISO Guide 73) adalah “pengaruh ketidakpastian pada tujuan. Ketidakpastian meliputi peristiwa (yang mungkin atau tidak terjadi) dan ketidakpastian yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau ketidakjelasan. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah Risiko (risk). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan.
Emmett J. Vaughan dalam bukunya Fundamentals of Risk and Insurance (John Wiley & Sons, 2008) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

    • Risk is the chance of loss (Risiko adalah kemungkinan Kerugian); berhubungan dengan suatu exposure (pemaparan atau tingkat kedaruratan) terhadap kemungkinan kerugian atau kondisi yang tidak menguntungkan. Dalam ilmu statistik, chance digunakan untuk menunjukkan tingkat kemungkinan akan munculnya situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.
    • Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian);
      Uncertainty dapat bersifat subyektif dan obyektif. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Sedangkan pengertian objective uncertainty dapat dilihat dari dua definisi risiko sebagai berikut:
    • Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan); dan
    • Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas suatu hasil berbeda dengan yang diharapkan).
      Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilitas dari beberapa hasil yang berbeda dari yang diharapkan.
      Herman Darmawi dalam buku Manajemen Risiko (2005) mendefinisikan risiko sebagai berikut:

      • Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan; dan
      • Risiko adalah probabilitas sesuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang diharapkan.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan berdampak pada pencapaian tujuan/hasil, dan cenderung merugikan atau tidak diinginkan. Jadi merupakan ketidakpastian atau kemungkinan terjadinya sesuatu, yang bila terjadi akan mengakibatkan kerugian. Dengan demikian risiko mempunyai karakteristik :
• merupakan ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa; dan
• merupakan ketidakpastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian.

Sehingga secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi oleh seseorang atau organisasi dimana terdapat kemungkinan yang merugikan atau konsekuensi penyimpangan atas hasil yang ingin dicapai. Dengan kata lain, risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran.
Menurut Rowe (1997), risiko dan ketidakpastian memiliki pengertian yang berbeda, tetapi mempunyai dampak/konsekuensi yang sama terhadap kerugian atau kerusakan. Ketidakpastian lebih sebagai akibat dari ketiadaan informasi karena kemungkinan terjadinya tidak dapat ditentukan, sedangkan risiko dapat ditentukan kemungkinannya karena adanya data dan informasi yang memadai. Dengan kata lain, jika kemungkinannya dapat dihitung maka hal tersebut merupakan risiko. Sebaliknya jika tidak dapat dihitung, hal tersebut merupakan ketidakpastian.

Wujud dari risiko itu dapat bermacam-macam, antara lain :

  • Berupa kerugian atas harta milik/kekayaan atau penghasilan, misalnya yang diakibatkan oleh kebakaran, pencurian, pengangguran dan sebagainya;
  • Berupa penderitaan seseorang, misalnya sakit/cacat karena kecelakaan;
  • Berupa tanggungjawab hukum, misalnya risiko dari perbuatan atau peristiwa yang merugikan orang lain; dan
  • Berupa kerugian karena perubahan keadaan pasar, misalnya karena terjadinya perubahan harga, perubahan selera konsumen dan sebagainya.

Sehingga secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi oleh seseorang atau organisasi dimana terdapat kemungkinan yang merugikan atau konsekuensi penyimpangan atas hasil yang ingin dicapai. Dengan kata lain, risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran

Jenis-jenis Risiko

Risiko dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk atau jenis tergantung dari sudut pandang dan perlakuan yang dikehendaki serta sumber asalnya.
Risiko berdasarkan sifatnya dapat dibedakan ke dalam:

1. Risiko Murni (pure risk), yaitu risiko yang tidak disengaja yang hanya akan menimbulkan kerugian atau tidak terjadi apa-apa serta tidak mungkin menguntungkan, misalnya: risiko kebakaran, kecelakaan, risiko kehilangan dan sebagainya;
2. Risiko Spekulatif atau Risiko Bisnis (speculative risk), yaitu risiko yang memang secara sengaja diadakan dan diharapkan dapat memberi keuntungan, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian. Contoh: risiko melakukan investasi, mengerjakan proyek, menjual produk dan jasa, dan sebagainya;
3. Risiko Fundamental (fundamental risk), yaitu risiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang dan kalau terjadi yang menderita tidak hanya satu atau beberapa orang saja, tetapi banyak orang, dan dampak kerugiannya bisa sangat luas atau bersifat fatal (catastrophic), seperti: risiko banjir, gempa bumi, polusi udara, perang, dan sebagainya;
4. Risiko Khusus (particular), yaitu risiko yang bersumber pada peristiwa yang mandiri serta umumnya mudah diketahui penyebabnya, dan kalau terjadi kerugiannya bersifat lokal, tidak menyeluruh (non-catastrophic), seperti: kapal kandas, pesawat jatuh, kegagalan konstruksi, dan sebagainya;
5. Risiko Dinamis (dynamic risk), yaitu risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan (dinamika) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti risiko keusangan, penerbangan antariksa, teknologi informasi dll. Kebalikannya disebut Risiko Statis, seperti risiko hari tua, risiko kematian dan sebagainya;
6. Risiko Sistemik, yaitu risiko yang bersifat spesifik akibat perilaku (attitude) dan sikap moral penyelenggara organisasi, terutama suatu pemerintahan, dalam melaksanakan program-programnya dan tercermin dari satu tindakan yang disebut pidana korupsi, kolusi dan nepotisme.

Risiko berdasarkan perlakuan dapat tidaknya dialihkan kepada pihak lain, meliputi:
1. Risiko yang dapat dialihkan, yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan sebagai obyek yang terkena risiko kepada pihak lain (seperti perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi asuransi), sehingga kerugian tersebut menjadi tanggungan (beban) perusahaan asuransi; dan
2. Risiko yang tidak dapat dialihkan, umumnya semua jenis risiko spekulatif yang tidak dapat dipertanggungkan pada perusahaan asuransi.
Risiko berdasarkan asal timbulnya dapat dibedakan ke dalam:
1. Risiko internal, yaitu risiko yang berasal dari dalam lingkungan sendiri, seperti kerusakan peralatan kerja pada proyek karena kesalahan operasi, kecelakaan kerja, kesalahan pengelolaan, dan sebagainya; dan
2. Risiko eksternal, yaitu risiko yang berasal dari lingkungan luar, seperti risiko pencurian, persaingan usaha, fluktuasi harga, perubahan kebijakan karena situasi politik, hukum dan keamanan,dan sebagainya.

Potensi Risiko

Risiko merupakan kombinasi dari kemungkinan suatu kejadian dan akibat dari kejadian tersebut dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada lebih dari satu akibat yang mungkin terjadi untuk satu kejadian tertentu. Per definisi tingkat potensi risiko merupakan suatu kesempatan yang secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:

Risk Likelihood adalah kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang dikuantifikasi menjadi angka probabilitas;
Risk Impact adalah dampak dari peristiwa tersebut yang biasanya diukur dengan satuan moneter, misalnya rupiah; dan
Risk Exposure adalah keseriusan atau tingkat (level) kedaruratan atau potensi risiko atau indeks risiko, yang dalam analisis biaya-manfaat akan mencerminkan besarnya biaya.
Tingkat kedaruratan atau potensi risiko (risk exposure) inilah yang kelak kemudian akan diperbandingkan dengan potensi risiko suatu pekerjaan lainnya dan menjadi acuan untuk memilih pekerjaan mana yang akan dilakukan, atau diperbandingkan dengan tingkat kedaruratan atau potensi risiko lainnya dalam suatu aktivitas/ pekerjaan untuk menentukan prioritas penanganan risiko yang perlu dilakukan.

Derajat Risiko

Derajat risiko (degree of risk) adalah ukuran risiko lebih besar atau lebih kecil, apabila suatu risiko diartikan sebagai ketidakpastian, maka risiko terbesar akan terjadi jika terdapat dua kemungkinan hasil yang masing-masing mempunyai kemungkinan yang sama untuk terjadi. (Sumber: Setia Mulyawan, Manajemen Risiko, Bandung, 2015)

Sumber Risiko

Selain berasal dari lingkungan internal dan eksternal, menentukan sumber risiko merupakan hal yang penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Sumber risiko dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1. Risiko sosial, yaitu risiko yang sumber utamanya berasal dari masyarakat, artinya tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan atas hasil yang ingin dicapai dan merugikan, seperti: huru hara (riot), perusakan masal (tindakan anarkis), peperangan, dan sebagainya;
2. Risiko fisik, yaitu risiko yang sumbernya bisa berasal dari fenomena alam atau karena kesalahan/kelalaian manusia, seperti: gempa bumi, bencana banjir, tanah longsor, dan kebakaran (yang dapat disebabkan oleh alam seperti petir, atau oleh penyebab fisik seperti kabel cacat, atau oleh kelalaian manusia); dan
3. Risiko ekonomi, yaitu risiko yang disebabkan oleh faktor atau kondisi ekonomi. Contoh: krisis moneter, inflasi yang dapat menyebabkan berkurangnya daya beli, perubahan kebijakan ekonomi, dan sebagainya.

Klasifikasi Risiko

Risiko yang dikenal dan sering dibahas dalam manajemen risiko setidaknya dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat), yaitu:

  1. Risiko Operasional, adalah risiko yang timbul karena kegagalan operasional yang mencakup berbagai peristiwa, tindakan atau kelambanan (seperti kegagalan untuk mengambil tindakan yang tepat pada waktu yang tepat), yang dapat mengakibatkan kerugian keuangan secara langsung ataupun tidak langsung (misalnya kerugian potensial atau hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan). Termasuk dalam kegagalan operasional antara lain; kesalahan eksekusi, kegagalan sistem dan teknologi, pelanggaran hukum dan peraturan yang dilakukan secara sadar, dan tindakan mengambil risiko yang berlebihan. Sumber terjadinya risiko operasional paling luas dibandingkan dengan risiko lainnya yakni selain bersumber dari aktivitas tersebut di atas juga bersumber dari kegagalan fungsi internal, seperti sistem informasi manajemen, akuntansi, dan pengelolaan sumber daya alam dan manusia;
  2. Risiko Finansial, yaitu risiko yang berdampak pada kinerja keuangan termasuk kejadian risiko akibat fluktuasi nilai mata uang, krisis ekonomi, krisis likuiditas, perubahan kebijakan moneter, tingkat suku bunga dan harga pasar;
  3. Risiko Hazard, yaitu risiko yang terkait dengan kecelakaan fisik atau peristiwa yang diakibatkan oleh kondisi hazard, seperti kejadian bencana dan kerusakan yang menimbulkan kerugian; dan
  4. Risiko Strategis, yaitu risiko yang ada hubungannya dengan strategi suatu organisasi, kondisi politik, ekonomi dan hukum yang tidak terduga dan dapat mempengaruhi kemampuan operasional dan bahkan kelangsungan organisasi. Termasuk dalam hal ini risiko yang timbul akibat pengambilan keputusan dan penetapan strategi yang tidak tepat, kurang responsif terhadap perubahan eksternal, dan adanya perubahan metoda kerja karena kondisi lapangan yang tidak diprediksi sebelumnya.

Selain keempat klasifikasi tersebut di atas, dalam manajemen risiko dikenal beberapa klasifikasi risiko lainnya seperti:
• Risiko Kepatuhan, yaitu risiko yang timbul karena penyimpangan terhadap peraturan perundangan, ketentuan dan standar yang berlaku, termasuk dalam hal ini risiko administratif, baik akibat faktor internal ataupun eksternal;
• Risiko Hukum, yaitu risiko yang disebabkan oleh kelemahan pada dokumentasi usaha dan dokumen hukum lainnya atau akibat penyimpangan terhadap ketentuan yang dapat menimbulkan adanya tuntutan hukum (baik perdata maupun pidana) dan konsekuensi potensi kerugian; dan
• Risiko Reputasi, yaitu risiko yang berkaitan dengan persepsi negatif yang akan berdampak pada reputasi, kualifikasi dan kinerja organisasi.
Dalam Pengadaan Barang/Jasa, kategori risiko dapat dikelompokkan berdasarkan area utama sesuai potensi risiko sebagai berikut:
1. Risiko Teknis
Berdasarkan sifatnya merupakan risiko spekulatif, tetapi bisa juga merupakan risiko khusus dan termasuk dalam klasifikasi risiko operasional. Risiko teknis pada dasarnya berhubungan dengan perubahan atau ketidakpastian terkait aspek kelengkapan/kecukupan desain serta spesifikasi, efisiensi operasional, dan keandalan. Risiko teknis mengancam kualitas dan ketepatan waktu pelaksanaan yang dihasilkan, yang bisa berdampak pada biaya. Bila risiko teknis menjadi kenyataan, maka implementasinya bisa sangat sulit.
2. Risiko Keuangan
Berdasarkan sifatnya merupakan risiko spekulatif dan termasuk klasifikasi risiko finansial/ekonomi. Risiko keuangan mencakup seluruh risiko yang akan berdampak pada kinerja dan kemampuan keuangan para pihak yang terlibat, termasuk diantaranya kejadian risiko akibat fluktuasi nilai mata uang, krisis likuiditas, inflasi, perubahan tingkat suku bunga, krisis moneter dan perubahan harga pasar.
3. Risiko Administratif
Berdasarkan sifatnya merupakan risiko spekulatif dan termasuk dalam klasifikasi risiko kepatuhan atau bisa juga termasuk risiko operasional, yang lebih disebabkan karena kelemahan sistem/kelalaian aspek administrasi, kelengkapan dokumen, dan lain sebagainya yang bisa berdampak pada keterlambatan pelaksanaan, kerugian, dan bahkan aspek legalitas seperti tuntutan hukum dan litigasi.
4. Risiko Pidana
Berdasarkan sifatnya merupakan risiko spekulatif dan termasuk dalam klasifikasi risiko hukum, antara lain karena aspek keamanan, perusakan , pencurian, penipuan/pemalsuan dan korupsi. Dalam Pengadaan Barang/Jasa publik, risiko pidana korupsi perlu mendapat perhatian khusus, karena akan berdampak pada penghentian atau kegagalan proses pengadaan. Hukum pidana bagi para pihak yang terlibat, maupun terhadap kinerja dan reputasi organisasi/unit kerja pemangku risiko. Risiko pidana korupsi dapat terjadi pada hampir setiap tahapan pengadaan dari mulai tahap identifikasi kebutuhan, persiapan pengadaan, pemilihan peserta dan penentuan pemenang sampai dengan tahapan pelaksanaan dan bahkan pelaporan keuangan.
5. Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Lingkungan Secara khusus diterapkan pada jenis pekerjaan konstruksi yang berdasarkan sifatnya bisa merupakan risiko spekulatif maupun risiko murni dan termasuk klasifikasi risiko operasional. K3 sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 26 Tahun 2014 adalah semua potensi bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan yang merugikan jiwa manusia, terganggunya proses produksi dan/atau pencemaran lingkungan kerja yang meliputi bahaya benda bergerak, bahaya benda diam, bahaya benda fisik, bahaya listrik, bahaya kimiawi, bahaya biologis, bahaya ergonomis dan bahaya psikologis. Risiko lingkungan adalah terkait dengan potensi pencemaran atau gangguan tehadap lingkungan akibat kegiatan yang dilakukan, termasuk pemenuhan ketentuan dan persyaratan sesuai kebijakan lingkungan yang ada.

Beberapa Istilah dalam Pengelolaan Risiko

Sebelum masuk ke uraian tentang konsep manajemen risiko, ada beberapa istilah atau pengertian penting yang perlu dipahami secara baik dalam mempelajari manajemen Risiko. Untuk membantu pemahaman peserta latih serta menghindari kerancuan interpretasi atas istilah-istilah yang sering digunakan dalam berbagai macam standar dan referensi tersebut, berikut disampaikan pengertian dan/atau definisi yang pada dasarnya mengacu pada ISO Guide 73, 2009, Risk Management–Vocabulary, yaitu antara lain:
1. Peril; yaitu peristiwa/kejadian yang menimbulkan kerugian. Jadi merupakan kejadian atau peristiwa sebagai penyebab langsung terjadinya suatu kerugian, seperti: kebakaran, pencurian, kecelakaan dan sebagainya. Peril sering disebut juga bencana, meskipun antara keduanya sebetulnya tidak persis sama.
2. Hazard (bahaya); merupakan faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kerugian. Hazard juga sering diartikan sebagai keadaan dan kondisi yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril, seperti jalan licin dan tikungan tajam, sebagai kondisi jalan yang memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan di tempat tersebut. Dengan demikian hazard lebih erat kaitannya dengan masalah kemungkinan dari pada dengan masalah risiko, meskipun hal itu merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan dalam upaya penanggulangan risiko. Sebab hazard pada hakekatnya merupakan dasar/bahan dalam upaya mengestimasi besarnya kemungkinan terjadinya peril.
3. Peristiwa (event); adalah suatu kejadian (insiden) atau perubahan yang terjadi pada suatu kondisi atau lingkungan tertentu (pada tempat tertentu selama interval waktu tertentu).
4. Konsekuensi (consequence) atau Dampak; adalah akibat dari suatu peristiwa yang mempengaruhi sasaran. Konsekuensi bisa dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif, seperti kerugian, sakit, cedera, keadaan merugikan atau menguntungkan, bisa juga berupa rentangan akibat-akibat yang dapat terjadi dan berhubungan dengan suatu kejadian. Sedangkan dampak lebih diartikan sebagai akibat suatu kegiatan, baik langsung maupun tidak langsung, meliputi berbagai dampak negatif, termasuk uang, waktu, tenaga kerja, nama baik, gangguan, dan kerugian-kerugian lain yang tidak dinyatakan secara jelas.
5. Frekuensi; ukuran angka dari peristiwa suatu kejadian yang dinyatakan sebagai jumlah peristiwa suatu kejadian dalam waktu tertentu.
6. Kemungkinan (likelihood); adalah kesempatan/kemungkinan sesuatu terjadi.
Catatan: Perlu dibedakan antara likelihood dengan probability. Terminologi probabilitas adalah istilah matematik terutama statistik, sehingga dalam menggunakannya perlu diperhatikan kaidah-kaidah matematik terkait. Istilah likelihood atau kemungkinan adalah istilah yang lebih umum dan tidak terkait dengan kaidah matematik, sehingga dalam menentukan ukurannya dapat lebih bebas, baik subyektif, kualitatif ataupun kuantitatif.
7. Probabilitas; digunakan sebagai gambaran kualitatif dari kemungkinan atau frekuensi. Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, diukur dengan rasio dari kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau hasil. Probabilitas dilambangkan dengan angka dari 0 sampai 1, dengan angka 0 menandakan kejadian atau hasil yang tidak mungkin terjadi, dan angka 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti terjadi.
8. Risiko; adalah dampak ketidakpastian pada sasaran. Secara umum risiko juga diartikan sebagai kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan menimbulkan kerugian atau berdampak (mengancam) terhadap pencapaian sasaran.
9. Sumber Risiko; adalah segala sesuatu yang baik secara sendiri ataupun secara bersama-sama mempunyai potensi yang melekat (intrinsic) untuk menimbulkan terjadinya risiko.
10. Profil Risiko; adalah gambaran atau uraian dari suatu kelompok risiko.
Catatan: kelompok risiko ini dapat berisikan risiko-risiko yang terkait dengan seluruh organisasi, hanya sebagian dari organisasi, atau dari suatu proyek/ proses.
11. Selera Risiko (risk appetite); jumlah dan jenis risiko yang dipandang perlu/ siap ditangani atau diterima oleh organisasi (sesuai kepentingan proses bisnis organisasi).
12. Kriteria Risiko; adalah kerangka acuan untuk mengukur besaran risiko yang akan dievaluasi.
13. Risiko Tersisa (residual risk); adalah risiko yang masih ada/tersisa setelah dilakukan penanganan/perlakuan risiko.
14. Toleransi Risiko (risk tolerance); adalah kesiapan organisasi atau pemangku kepentingan untuk menanggung risiko setelah perlakuan risiko dalam upaya mencapai sasaran. (Catatan: toleransi risiko dapat dipengaruhi oleh sebab persyaratan hukum dan peraturan perundangan)
15. Pemangku Risiko (risk owner); orang atau suatu entitas yang mempunyai akuntabilitas dan kewenangan untuk mengelola suatu risiko.
16. Pemangku Kepentingan (stakeholders); adalah setiap orang atau entitas yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi, atau menganggap dirinya dapat dipengaruhi oleh suatu keputusan atau kegiatan.
17. Manajemen Risiko; merupakan upaya organisasi yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan risiko.
18. Kebijakan Manajemen Risiko; adalah pernyataan manajemen/pimpinan organisasi terkait arah dan tujuan penerapan manajemen risiko.
19. Rencana Manajemen Risiko; adalah pola atau skema dalam kerangka manajemen risiko yang menunjukan pendekatan yang akan diterapkan dalam mengelola risiko, seperti pendekatan yang digunakan, komponen-komponen manajemen termasuk teknik manajemen risiko yang digunakan, dan sumber daya yang akan dipakai dalam mengelola risiko.
20. Proses Manajemen Risiko; adalah penerapan secara sistematik kebijakan manajemen, prosedur dan praktik manajemen dalam pelaksanaan tugas untuk melakukan komunikasi dan konsultasi, menetapkan konteks, melakukan identifikasi, menganalisa, mengevaluasi, memperlakukan, memantau dan mengkaji risiko.
21. Menetapkan Konteks; merupakan proses untuk menentukan batasan dan parameter, baik internal maupun eksternal, yang harus dipertimbangkan dalam mengelola risiko dan menentukan lingkup serta kriteria risiko dalam kebijakan manajemen risiko.
22. Kerangka (Kerja) Manajemen Risiko; adalah sekumpulan perangkat organisasi yang menyediakan landasan bagi perencanaan, penerapan, monitor dan review serta perbaikan secara berkesinambungan manajemen risiko bagi seluruh organisasi.
23. Penilaian Risiko (risk assessment); adalah keseluruhan proses yang meliputi identifikasi risiko, analisa risiko dan evaluasi risiko.
24. Identifikasi Risiko; merupakan proses menentukan apa yang dapat terjadi, mengapa dan bagaimana hal itu terjadi.
25. Analisa Risiko (risk analyses); yaitu sebuah sistematika yang menggunakan informasi yang didapat untuk menentukan tingkat kemungkinan serta seberapa sering kejadian tertentu dapat terjadi, dan seberapa besar konsekuensi akibat kejadian tersebut.
26. Evaluasi Risiko; proses yang biasa digunakan untuk menentukan besaran dan tingkat prioritas risiko, cara penanganan/perlakuan terhadap risiko, serta sistem pengendalian yang diperlukan, dengan membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang ditentukan, target tingkat risiko dan kriteria lainnya.
27. Penanganan Risiko (risk treatment); adalah proses penentuan perlakuan dan tindakan-tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan terhadap risiko, untuk meminimalisasi tingkat risiko sampai pada batas yang dapat diterima.
28. Perlakuan Risiko; adalah bentuk tanggapan terhadap risiko (risk response) dengan mempertimbangkan tingkat keseriusan risiko, tujuan dan hasil yang diinginkan, serta kapasitas sumber daya yang dimiliki.
29. Pengurangan Risiko (risk mitigation); penerapan prinsip-prinsip manajemen dan teknik-teknik yang tepat secara selektif, sebagai salah satu mekanisme penanganan risiko, dalam rangka mengurangi atau mitigasi tingkat keseriusan atau potensi risiko, dengan mengurangi kemungkinan terjadinya peristiwa risiko atau mengurangi dampaknya, atau keduanya.
30. Pengendalian Risiko (risk control); bagian dari proses manajemen risiko yang melibatkan penerapan kebijakan, standar, dan prosedur perubahan fisik untuk merubah risiko, baik menghilangkan, mencegah atau mengurangi risiko, berdasarkan cara penanganan risiko yang telah ditetapkan. (Catatan: pada dasarnya pengendalian risiko dilakukan melalui upaya pengurangan risiko)
31. Pemantauan atau Monitoring Risiko (risk monitoring); adalah suatu proses yang dilakukan secara terus menerus untuk memeriksa, mengawasi, melakukan pengamatan secara kritis untuk dapat mengidentifikasi terjadinya perubahan dari tingkat kinerja atau hasil dan sasaran yang ingin dicapai dari pelaksanaan pengelolaan risiko.
32. Peninjauan (review); adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan tingkat kesesuaian, kecukupan, dan efektivitas suatu obyek, proses atau cara yang digunakan dalam mencapai sasaran. (Catatan: review dapat dilakukan baik terhadap kerangka kerja manajemen risiko, proses manajemen risiko, perlakuan risiko, ataupun pengendalian risiko)
33. Komunikasi dan Konsultasi; suatu proses yang berulang dan berkelanjutan antara organisasi dan para pemangku kepentingan dalam saling memberikan, berbagi informasi serta melakukan dialog terkait dengan pengelolaan risiko.

Demikian dasar-dasar pengelolaan risiko yang perlu kita pahami sebelum kita melakukan manajemen risiko pada pengadaan barang/jasa dalam organisasi/instansi. Semoga pada kesempatan berikut kita akan membahas mengenai konsep manajemen risiko dalam pengadaan barang/jasa.
Tetap sehat, bahagia dan sukses
Salam Pengadaan!

Catatan : Disadur dari Buku Informasi Unit Kompetensi UK 29 SKKNI LKPP 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *